Dalam dunia pendidikan matematika dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit, yang tidak jarang menyebabkan tekanan psikologis pada kebanyakan siswa, khususnya bagi siswa yang kurang mampu dalam pelajaran tersebut. Bagi siswa yang kurang mampu dalam pelajaran matematika, mereka akan merasakannya sebagai suatu siksaan atau tekanan batin selama proses pembelajaran berlangsung. Perasaan tertekan tersebut akan menyebabkan suasana di kelas menjadi tidak nyaman dan aman selama proses pembelajaran.
Oleh karena itu, untuk menghadapi kompleksitas permasalahan pendidikan matematika di sekolah, pertama kali yang harus dilaksanakan adalah bagaimana menumbuhkan kembali minat siswa terhadap matematika. Sebab tanpa adanya minat, siswa akan sulit untuk mau belajar, dan menguasai matematika secara sempurna. Menumbuhkan kembali minat siswa terhadap matematika akan sangat terkait dengan berbagai aspek yang melingkupi proses pembelajaran matematika di sekolah. Aspek-aspek itu berkaitan dengan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran matematika, metode pengajaran, maupun aspek-aspek lain yang mungkin tidak secara langsung berhubungan dengan proses pembelajaran matematika, misalnya sikap orang tua atau masyarakat pada umumnya terhadap matematika. Untuk menumbuhkan minat siswa terhadap matematika, pembelajaran matematika di sekolah dalam penyajiannya harus diupayakan dengan cara yang lebih menarik bagi siswa. Matematika sebenarnya memiliki banyak sisi yang menarik. Namun, seringkali hal tersebut tidak dihadirkan dalam proses pembelajaran matematika. Akibatnya siswa mengenal matematika tidak secara utuh. Matematika hanya dikenal oleh siswa sebagai kumpulan rumus, angka, dan simbol belaka. Disamping itu, pembelajaran matematika di sekolah tidak dapat dilepaskan dari pendekatan yang digunakan oleh guru. Pendekatan tersebut biasanya dipengaruhi oleh pemahaman guru tentang sifat matematika, bukan apa yang diyakini paling baik untuk proses pembelajaran matematika di kelas. Guru yang memandang matematika sebagai produk yang sudah jadi akan mengarahkan proses pembelajaran siswa untuk menerima pengetahuan yang sudah jadi. Guru akan cenderung mengisi pikiran siswa dengan sesuatu yang sudah jadi. Sedangkan, guru yang memandang bahwa matematika merupakan suatu proses akan lebih menekankan aspek proses daripada aspek produk dalam pembelajaran matematika. (Marpaung, 1998).
Pada kenyataannya, matematika menimbulkan luka psikologis yang diderita siswa berkaitan dengan pendidikan matematika. Untuk dapat menyembuhkan luka psikologis tersebut maka peran seorang guru sangat besar dalam hal ini, sehingga minat siswa terhadap matematika tumbuh subur kembali. Pendidikan matematika di sekolah hanya akan berlangsung dengan baik dan sampai pada tujuannya jika ada sinergi dari banyak pihak, seperti siswa, guru, orang tua, dan pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam proses pembelajaran matematika di sekolah. Antara satu komponen dan komponen lain yang terlibat dalam pendidikan matematika diharapkan saling menginspirasi agar pembelajaran matematika di sekolah menjadi lebih menyenangkan, mengasyikkan, dinamis, dan humanis. Dengan berbagai usaha tersebut diharapkan matematika tidak lagi dipandang secara parsial oleh siswa, guru, masyarakat, atau pihak lain. Melainkan mereka dapat memandang matematika secara utuh yang pada akhirnya dapat memacu dan memotivasi mereka untuk mempelajari matematika dengan sungguh-sungguh.
By:
ENI MAWARTI
07301241011
PENDINIKAN MATEMATIKA R'07
085643681544